Sumenep, bnewsnasional.id - Limbah bambu yang selama ini kerap dianggap tak bernilai, ternyata mampu disulap menjadi produk kerajinan bernilai ekonomi tinggi hingga menembus pasar ekspor. Potensi inilah yang menjadi fokus utama kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) yang digelar oleh Organisasi Family of UINSA Sumenep di Dusun Kombang, Desa Dasuk Laok, Kecamatan Dasuk, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur.6/07/26
Dalam kegiatan tersebut, puluhan mahasiswa yang tergabung dalam organisasi tersebut turun langsung mempelajari proses pemanfaatan limbah bambu serta teknik budidaya dan pembuatan topi jerami atau topi anyaman, sebuah kerajinan khas yang telah lama menjadi salah satu komoditas unggulan warga setempat. Kegiatan ini dilaksanakan sebagai bentuk kepedulian mahasiswa terhadap potensi ekonomi lokal yang belum tergarap secara maksimal.
Baca Juga: MPLS Ramah 2026 di SDN Sera Timur Tanamkan Karakter Anti-Bullying dan Budaya Siaga Bencana
Ketua Pelaksana kegiatan menjelaskan bahwa program ini digagas sebagai wujud tanggung jawab mahasiswa untuk turun langsung ke tengah masyarakat, tidak hanya belajar di ruang kelas, tetapi juga menyerap dan mengangkat kearifan lokal yang memiliki nilai jual tinggi.
"Kami melihat bahwa di Dusun Kombang ini ada potensi luar biasa yang selama ini belum banyak diketahui orang luar. Limbah bambu yang biasanya dibuang begitu saja, di tangan warga sini bisa menjadi topi jerami yang indah dan bernilai ekonomi. Kegiatan pengabdian ini kami rancang bukan sekadar seremonial, tapi benar-benar untuk belajar bersama masyarakat," ujar Ketua Pelaksana.
Ia menambahkan, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai jembatan antara potensi desa dengan peluang pasar yang lebih luas, termasuk pasar ekspor. Menurutnya, produk kerajinan seperti topi jerami dari Dasuk memiliki kualitas yang tidak kalah dengan produk anyaman dari daerah lain yang sudah lebih dulu dikenal.
"Harapan kami, pelatihan semacam ini bisa memicu jiwa technopreneurship pemuda-pemuda di sini. Bukan hanya membuat kerajinan sebagai sampingan, tapi benar-benar dikembangkan menjadi usaha yang serius, dikelola dengan manajemen yang baik, sampai akhirnya bisa menembus pasar ekspor. Kami ingin produk lokal Dasuk ini dikenal, tidak hanya di Sumenep, tapi juga sampai ke luar negeri," lanjutnya.
Kegiatan pelatihan ini menghadirkan Rudı, seorang pemuda asli Desa Dasuk yang telah lama menekuni kerajinan anyaman bambu, sebagai narasumber sekaligus pengrajin yang membimbing langsung praktik pembuatan topi jerami. Rudı membagikan pengalamannya mengenai proses mengubah bahan yang dianggap limbah menjadi produk yang memiliki nilai jual tinggi.
"Bambu itu sebenarnya bahan yang sangat fleksibel. Bagian-bagian yang biasanya dianggap sisa atau limbah, kalau diolah dengan telaten, justru bisa jadi bahan anyaman topi yang halus dan kuat. Prosesnya memang butuh kesabaran, mulai dari pemilihan bambu, penyerutan, sampai proses menganyam satu per satu," jelas Rudı saat memandu para mahasiswa mempraktikkan teknik dasar menganyam.
Baca Juga: Gali Potensi Desa, Family Of UINSA Eksplorasi Wisata Kebun Jeruk Pak Daud di Dasok Laok
Ia menjelaskan bahwa satu topi jerami dapat dijual dengan harga yang cukup menjanjikan, apalagi jika kualitas anyamannya rapi dan mengikuti standar yang diminta pasar, termasuk pasar luar negeri yang selama ini telah menjadi tujuan distribusi sebagian hasil kerajinan warga Dasuk.
"Selama ini sebenarnya sudah ada beberapa hasil kerajinan dari sini yang dikirim ke luar daerah, bahkan sampai ekspor. Tapi memang belum banyak yang tahu kalau usaha ini bisa berkembang sebesar itu. Makanya saya senang sekali ada adik-adik mahasiswa Family of UINSA yang mau belajar dan datang langsung ke sini," tuturnya.
Rudı juga menyampaikan apresiasinya terhadap semangat belajar para mahasiswa yang menurutnya sangat antusias meski baru pertama kali mencoba teknik menganyam.
"Saya lihat semangat belajar teman-teman mahasiswa ini luar biasa. Meskipun awalnya kaku dan hasil anyamannya belum rapi, tapi mereka mau terus mencoba sampai bisa. Ini yang penting, karena keterampilan menganyam itu memang harus dilatih terus-menerus, tidak bisa instan," pungkas Rudı.
Baca Juga: Pembukaan KKN Kelompok 35 di Desa Sera Timur, Usung UMKM Go Digital hingga Program KRISTAL
Selama kegiatan berlangsung, para mahasiswa tidak hanya mengamati, tetapi juga langsung mempraktikkan proses pengolahan bambu, mulai dari tahap penyortiran bahan baku hingga teknik dasar menganyam topi. Antusiasme warga setempat, khususnya para pemuda desa, turut menghidupkan suasana kegiatan yang berlangsung penuh keakraban.
Kegiatan pengabdian masyarakat ini diharapkan tidak berhenti pada satu kali pelatihan, melainkan dapat berlanjut melalui pendampingan lanjutan, baik dari sisi peningkatan kualitas produk, pengemasan, hingga strategi pemasaran digital agar kerajinan topi jerami khas Dusun Kombang semakin dikenal luas dan mampu bersaing di pasar global.
Melalui sinergi antara mahasiswa dan masyarakat seperti ini, potensi ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal di pelosok Sumenep diharapkan dapat terus tumbuh, membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda desa, sekaligus melestarikan keterampilan anyaman tradisional yang selama ini menjadi warisan turun-temurun masyarakat Dasuk.(Team M/Red)
Editor : Redaksi