Sumenep, bnewsnasional.id - Udara pagi di Dasok Laok terasa berbeda dari biasanya. Di antara rimbunnya pepohonan jeruk yang menghijau dan aroma tanah basah usai hujan semalam, sekelompok mahasiswa dengan semangat menyala melangkah menyusuri pematang kebun. Mereka adalah Family Of UINSA, sebuah komunitas mahasiswa yang datang bukan sekadar untuk berwisata, melainkan membawa misi yang lebih dalam: menggali dan mengangkat potensi tersembunyi dari sebuah desa yang selama ini luput dari sorotan. Di hadapan mereka, terbentang Kebun Jeruk milik Bapak Daud sebuah hamparan hijau yang menyimpan cerita panjang tentang ketekunan, harapan, dan mimpi sederhana seorang petani desa.8/7/26

Baca Juga: MPLS Ramah 2026 di SDN Sera Timur Tanamkan Karakter Anti-Bullying dan Budaya Siaga Bencana
Dasok Laok, sebuah desa yang mungkin belum banyak dikenal wisatawan, ternyata menyimpan pesona agrowisata yang layak diperhitungkan. Kebun Jeruk Pak Daud menjadi salah satu buktinya. Berjajar rapi pohon-pohon jeruk yang buahnya mulai menguning, menandakan musim panen yang tak lama lagi tiba. Namun di balik keindahan itu, tersimpan kisah panjang tentang kerja keras seorang petani yang merawat kebunnya dengan penuh cinta selama bertahun-tahun.
Kunjungan Family Of UINSA ke lokasi ini bukan tanpa alasan. Sebagai bagian dari program eksplorasi potensi lokal, kelompok mahasiswa ini ingin memastikan bahwa kekayaan alam desa seperti Kebun Jeruk Pak Daud tidak hanya menjadi sumber penghidupan bagi pemiliknya, tetapi juga dapat berkembang menjadi destinasi agrowisata yang mampu menggerakkan roda ekonomi masyarakat sekitar.
Untuk mengenal lebih dekat kisah di balik kebun tersebut, jurnalis Muhammad Adfan Majdi berkesempatan berbincang langsung dengan Bapak Daud, sang pemilik kebun. Dengan gaya bertutur yang santai namun tetap menggali informasi secara mendalam, Adfan mengajak Pak Daud bercerita sambil duduk di gubuk kecil di tengah kebun, ditemani suara gemerisik daun jeruk yang tertiup angin.
Pendekatan humanis semacam ini menjadi kunci penting dalam menggali cerita otentik dari narasumber. Alih-alih menanyakan hal-hal kaku dan formal, Adfan lebih dulu membangun kedekatan emosional, bertanya soal keseharian Pak Daud sebelum akhirnya masuk ke inti perbincangan mengenai sejarah dan harapan atas kebun jeruknya.
"Kebun ini sudah saya rawat sejak lebih dari sepuluh tahun yang lalu. Awalnya hanya coba-coba menanam beberapa pohon, tapi karena cocok dengan tanah di sini, akhirnya saya kembangkan terus sampai sekarang," tutur Pak Daud membuka ceritanya kepada Muhammad Adfan Majdi.
Ia menjelaskan, jenis jeruk yang ditanam di kebunnya merupakan varietas lokal yang telah beradaptasi baik dengan kondisi tanah dan iklim Dasok Laok. Rasa manis dan segar yang khas menjadi keunggulan tersendiri, membuat hasil kebunnya kerap diburu pembeli dari luar desa saat musim panen tiba.
Namun, di balik hasil panen yang menjanjikan, Pak Daud mengaku masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam hal promosi dan pengelolaan potensi wisata dari kebunnya. Ia menyadari bahwa Kebun Jeruk miliknya sebenarnya memiliki daya tarik untuk dikembangkan menjadi destinasi wisata petik jeruk, namun keterbatasan pengetahuan digital dan jaringan promosi membuat potensi ini belum tergarap maksimal.
"Kami di sini hanya bisa merawat dan menanam, tapi soal bagaimana caranya orang luar tahu dan tertarik datang ke sini, itu yang masih jadi kendala. Makanya, saya senang sekali kalau ada adik-adik mahasiswa seperti Family Of UINSA yang mau datang, belajar, sekaligus membantu mempromosikan kebun ini," ungkap Pak Daud penuh harap.
Ia pun menitipkan harapan besar kepada generasi muda, khususnya mahasiswa yang menurutnya memiliki kemampuan lebih dalam mengelola media sosial dan strategi promosi modern. Baginya, kolaborasi semacam ini merupakan angin segar bagi masa depan kebunnya dan juga desa Dasok Laok secara keseluruhan.
Kunjungan Family Of UINSA ke Kebun Jeruk Pak Daud tak hanya diisi dengan obrolan santai, tetapi juga dipenuhi rangkaian aktivitas yang sarat makna. Para mahasiswa turut merasakan langsung pengalaman memetik jeruk dari pohonnya, sembari mengamati proses perawatan kebun yang selama ini dilakukan Pak Daud secara tradisional namun tetap efektif.
Tak berhenti di situ, diskusi ringan namun substantif pun mengalir di tengah rimbunnya pohon jeruk. Para anggota Family Of UINSA bertukar pikiran mengenai peluang pemberdayaan ekonomi desa berbasis potensi agrowisata, termasuk membahas kemungkinan pengembangan konsep wisata petik jeruk yang dikemas menarik bagi wisatawan.
Baca Juga: Mahasiswi UTM Raih Best Speech Miss Hijab Jawa Timur 2026, Buktikan Intelektualitas Putri Bangkalan
Sebagai bentuk kontribusi nyata, sejumlah mahasiswa turut merancang gagasan awal strategi promosi digital, mulai dari pemanfaatan media sosial untuk memperkenalkan Kebun Jeruk Pak Daud, hingga wacana pembuatan konten visual yang dapat menarik minat generasi muda perkotaan untuk berkunjung. Semangat kolaboratif ini menjadi bukti bahwa kepedulian terhadap desa tidak melulu harus berwujud besar, namun bisa dimulai dari langkah kecil yang penuh ketulusan.
Apa yang dilakukan Family Of UINSA di Kebun Jeruk Pak Daud sejatinya adalah gambaran kecil dari potensi besar yang bisa lahir ketika akademisi dan masyarakat desa bergandengan tangan. Semangat eksplorasi yang dibawa mahasiswa, dipadukan dengan ketulusan dan kerja keras petani seperti Pak Daud, membuktikan bahwa kemajuan desa tidak melulu bergantung pada proyek besar dari luar, melainkan dapat tumbuh dari sinergi sederhana yang dibangun dengan hati.
Dasok Laok, dengan Kebun Jeruk Pak Daud sebagai salah satu asetnya, kini selangkah lebih dekat untuk dikenal luas sebagai destinasi agrowisata yang menjanjikan. Namun perjalanan ini tentu tidak berhenti sampai di sini. Dibutuhkan keberlanjutan kolaborasi, dukungan berbagai pihak, serta konsistensi promosi agar potensi ini benar-benar dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat desa secara menyeluruh.
Pada akhirnya, kisah dari Kebun Jeruk Pak Daud ini mengajarkan satu hal penting: bahwa kemajuan ekonomi kreatif berbasis desa akan tumbuh subur manakala generasi muda mau turun langsung, mendengar, dan berkontribusi bersama warga lokal. Sebab, sejatinya kekayaan sebuah desa tidak hanya terletak pada tanah dan hasil buminya, tetapi juga pada semangat kolaborasi yang menghidupkannya.(Team M/Red)
Editor : Redaksi