NIAS BARAT, bnewsNasional.id– Gelombang kekecewaan masyarakat terhadap komitmen pengentasan kemiskinan di Kabupaten Nias Barat kembali mencuat ke publik. Kalimat "Bupati tutup mata saat melihat rakyat miskin" kini ramai diperbincangkan. Hal ini menyusul temuan kondisi memprihatinkan yang dialami oleh Bapak Faduhusa Daeli, seorang warga di Desa Simaeasi, Kecamatan Mandrehe, Kabupaten Nias Barat.
Ironisnya, gubuk tidak layak huni milik Bapak Faduhusa Daeli ini hanya berjarak sekitar 10 meter dari "Rumah Singgah Bupati" yang juga merupakan Posko Pemenangan di jalan raya Kabupaten Nias Barat. Saat dikunjungi oleh awak media, Bapak Faduhusa Daeli dalam keadaan sakit stroke dan tidak mampu lagi bekerja untuk menafkahi keluarganya. Kondisi ini diperberat dengan situasi istrinya yang saat ini harus menjalani perawatan medis di Medan. Di gubuk yang nyaris roboh tersebut, ia kini hanya tinggal bersama anak laki-lakinya yang masih duduk di bangku SMP.
Amanat Undang-Undang dan Ironi Bantuan yang Salah Sasaran
Kondisi nyata yang dialami keluarga Bapak Faduhusa Daeli merupakan kritik keras bagi jalannya roda pemerintahan daerah. Konstitusi secara tegas menyatakan dalam Pasal 34 ayat (1) UUD 1945 bahwa fakir miskin dan anak-anak yang terlantar dipelihara oleh negara. Selain itu, perlindungan ini diperkuat oleh
Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin, yang menjamin hak atas kecukupan pangan, sandang, perumahan, serta pelayanan kesehatan bagi warga tidak mampu.
Publik kini mempertanyakan efektivitas program bantuan rumah kumuh (bedah rumah) di Nias Barat. Publik mengonfirmasi bahwa alokasi bantuan tersebut sebenarnya banyak, namun di lapangan, warga yang benar-benar membutuhkan dan berada di depan mata justru terlewatkan. Bapak Faduhusa Daeli mengeluhkan bahwa Ibu Bupati Nias Barat dulunya pernah berjanji langsung untuk memberikan bantuan, namun hingga detik ini janji tersebut nihil terealisasi.
Pemerintah daerah dinilai tutup mata dan absen saat warganya berada dalam kesusahan yang amat sangat. Kehadiran negara yang diamanatkan undang-undang belum dirasakan oleh keluarga ini.
Jeritan Hati dari Balik Gubuk Lapuk
Melalui awak media, Bapak Faduhusa Daeli menyampaikan keluh kesah dan harapan besarnya agar Pemerintah Kabupaten Nias Barat tergugah untuk peduli terhadap nasibnya.
"Saya sudah tidak bisa kerja lagi pak karena sakit. Anak saya masih sekolah. Tolong sampaikan ke Bupati agar kami diperhatikan," ujarnya dengan suara lirih dan mata berkaca-kaca.
Berdasarkan pantauan langsung di lapangan, dinding dan atap tempat tinggalnya sudah rusak parah dan tidak memiliki fasilitas dasar yang layak bagi manusia. Lokasi yang sangat dekat dengan pusat aktivitas politik dan pemerintahan membuat pemandangan ini menjadi kontras yang menyakitkan. Hingga rilis ini dikeluarkan, belum ada langkah konkret atau keterangan resmi dari Pemerintah Kabupaten Nias Barat terkait penanganan keluarga Bapak Faduhusa Daeli.
Imbauan dan Motifasi untuk Pemerintah serta Pengusaha
Kemiskinan dan kemalangan bukanlah tontonan, melainkan panggalan kemanusiaan untuk bertindak. Kepada jajaran Pemkab Nias Barat, ingatlah bahwa jabatan adalah amanah yang pertanggungjawabannya langsung kepada Tuhan dan rakyat; kekuasaan sejati diuji dari seberapa cepat kita hadir di gubuk-gubuk warga yang menderita, bukan seberapa megah posko kemenangan yang berdiri di sekitarnya.
Kepada para pengusaha, dermawan, dan elemen masyarakat yang memiliki kelebihan rezeki, ini adalah momentum untuk mengetuk pintu hati nurani. Mari jadikan isu ini sebagai sorotan bersama dan gerakan gotong royong. Saat birokrasi berjalan lambat, kepedulian pihak swasta dan masyarakat dapat menjadi juru selamat yang menghadirkan bantuan sosial, jaminan kesehatan, serta hunian yang layak bagi mereka yang membutuhkan.
Masyarakat mendesak agar Bupati dan dinas terkait segera turun ke lapangan. Bukan untuk sekadar berjanji, melainkan membawa solusi nyata demi memulihkan harkat hidup Bapak Faduhusa Daeli dan keluarganya.
Editor : Redaksi