Diduga Intimidasi Wartawan di Grup WhatsApp, Dua Aktivis Disorot: Kirim Sindiran hingga Stiker Bodrex

avatar Hanif

Bangkalan,BnewsNasional.id – Kebebasan pers kembali menjadi sorotan. Seorang wartawan diduga mendapat tekanan dan upaya pengucilan di dalam Grup WhatsApp GERMAS Garuda Nusantara Nasional setelah memilih tidak memberitakan sebuah persoalan yang dinilainya belum memiliki data dan keterangan yang cukup.

Berdasarkan tangkapan layar percakapan yang diterima redaksi, dua orang yang mengaku sebagai aktivis berinisial Y dan SG diduga melontarkan sejumlah pernyataan yang dinilai menyudutkan profesionalisme wartawan tersebut. Bahkan, percakapan berkembang menjadi sindiran melalui pengiriman foto obat hingga stiker Bodrex.

Baca Juga: Diduga Bagi Rata Bansos Bulog, Kepala Desa Gunung Sereng Dilaporkan Aliansi Pengawal Program Bangkalan

Percakapan bermula saat salah satu anggota grup mempertanyakan mengapa sebuah persoalan tidak diberitakan.

"Baru sekarang saya nemu ada wartawan gak mau memberitakan sesuatu yang bersifat kasuistis. Ada apakah gerangan," tulis salah satu anggota grup.

Tak lama kemudian, Y kembali menuliskan, "Berarti netralitas dan independensinya sebagai pewarta perlu dipertanyakan."

Pernyataan tersebut dinilai tidak sekadar mengkritik sebuah produk jurnalistik, melainkan mulai mengarah pada penilaian terhadap integritas profesi wartawan tanpa disertai bukti adanya pelanggaran Kode Etik Jurnalistik.

Merespons hal itu, wartawan yang menjadi sasaran komentar justru mempersilakan pihak yang mengaku sebagai korban untuk memberikan keterangan secara langsung.

"Tanya sama korbannya langsung, kan ada di dalam grup. Monggo," balas wartawan tersebut.

Baca Juga: Dr.Didi Sungkono.S.H.,M.H., Oknum Pengacara di Laporkan ke Polda Jawa Timur,Diduga Tipu Gelap Masyarakat senilai 520 JT

Wartawan tersebut juga membuka ruang klarifikasi dengan meminta pihak yang bersangkutan mengirimkan pernyataan melalui WhatsApp maupun pesan suara agar dapat dimuat secara berimbang sesuai kaidah jurnalistik.

Namun, hingga percakapan berlanjut, tidak terlihat adanya penyampaian data, dokumen, maupun bukti yang dapat dijadikan dasar pemberitaan. Sebaliknya, diskusi justru bergeser menjadi sindiran dan candaan yang dinilai semakin menyudutkan wartawan tersebut.

Dalam tangkapan layar yang beredar, SG mengirimkan foto obat sakit kepala merek Bodrex disertai kalimat berbahasa Madura yang bermakna menyarankan agar wartawan tersebut meminum obat apabila merasa pusing. Tidak lama kemudian, Y membalas dengan mengirim stiker bergambar kemasan Bodrex bertuliskan "Tenang Ada Bodrex", yang kemudian kembali ditanggapi oleh SG dengan komentar bernada guyonan.

Rangkaian percakapan tersebut dinilai sebagian anggota grup sebagai bentuk sindiran personal yang tidak lagi membahas substansi persoalan, melainkan mengarah kepada pribadi wartawan yang memilih tidak mempublikasikan informasi tanpa data yang memadai.

Baca Juga: Dugaan Suap Oknum Jaksa Kejari Surabaya, Janjikan Bebas Bayar Puluhan Juta Terdakwa Tetap Dibui

Sejumlah pemerhati pers menilai, apabila terdapat keberatan terhadap keputusan redaksi untuk tidak menerbitkan suatu berita, mekanisme yang tepat adalah menyampaikan data, bukti, kronologi, atau menggunakan hak jawab. Menyerang integritas wartawan tanpa dasar yang jelas justru berpotensi mencederai prinsip kebebasan pers dan independensi jurnalistik.

Peristiwa ini pun memunculkan pertanyaan di kalangan jurnalis. Apakah kritik tersebut merupakan bentuk kontrol sosial yang sehat, atau justru menjadi tekanan agar wartawan mengikuti keinginan pihak tertentu dalam menentukan layak atau tidaknya sebuah informasi dipublikasikan.

Hingga berita ini diterbitkan, Y maupun SG belum memberikan klarifikasi resmi terkait maksud pernyataan, pengiriman foto obat, maupun stiker Bodrex tersebut. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab kepada kedua pihak apabila ingin memberikan penjelasan atau tanggapan sesuai prinsip pemberitaan yang berimbang.(HNF)

Berita Terbaru