Viral! Supir Truk Sebut Babi Muatan Diduga Pembawa Virus ASF Adalah Milik Bupati Nias Barat : Netizen Heboh, Masyarakat

avatar Redaksi

NIAS BARAT ,bnewsnasional.id– Jagat media sosial di Kepulauan Nias mendadak gempar setelah beredarnya sebuah rekaman video yang memperlihatkan kedatangan satu unit mobil truk bermuatan ratusan ekor babi di Pelabuhan Gunungsitoli Pada jumat 21 Agustus 2026. 

Isu ini langsung memicu gelombang protes dan perdebatan panas di kalangan warganet (netizen) setelah sang supir truk secara terang-terangan menyebut nama orang nomor satu di Nias Barat.

Baca Juga: Viral! APBD Ratusan Miliar Nias Barat Disebut Jadi 'Bangkai Babi', Dermawan Daeli Desak DPRD Makzulkan Bupati Eliyunus

Truk dengan nomor polisi BE 0265 HW tersebut diketahui mengangkut babi berukuran kecil dengan estimasi berat 30 hingga 60 kilogram yang menyeberang lewat jalur laut menuju Pelabuhan Pelindo Gunungsitoli.

Ketika salah satu awak media di pelabuhan mencoba mengonfirmasi tujuan pengiriman tersebut dengan bertanya, "Bawa kemana babinya, Bang?", sang supir menjawab dengan santai sambil tersenyum, "Babi ini sama Bupati Nias Barat."
Sorotan Netizen : Udang di Balik Batu Dana Desa?
Kalimat santai supir truk tersebut bak menyulut api di tengah keringnya rumput. 

Netizen langsung menyoroti ironi besar yang terjadi di Nias Barat. Di saat wabah virus African Swine Fever (ASF) tengah merajalela dan mematikan puluhan ekor babi lokal milik peternak, pemerintah daerah justru diduga meloloskan pengadaan babi dari luar pulau yang berpotensi memperluas penularan virus.
Sontak, kolom komentar media sosial dipenuhi sindiran tajam dari netizen: "Yang penting cair dana desa dan masuk kantong yang bersangkutan! 🤣🤣🤣" tulis salah satu akun warganet. 

Baca Juga: Limbah Pasar Nou Menyengat: Walikota Gunungsitoli Tutup Hidung, Bawahan Menikmati, Masyarakat Terpaksa Menghirup.

Netizen lain ikut menimpali dengan nada pesimis namun menantang, "Smoga babi bupati nias barat ini sdh lolos sensor oleh BUMD nias barat dan bisa di trasnfer ke Bumdes babi yg sdh memesannya. Yaia Kho bupati, so mbawi Nia."
Masyarakat Diuji: Pembodohan Terstruktur atau Gerakan Menolak?
Situasi ini melempar bola panas kepada moralitas publik Nias Barat. Ke mana para pengamat, aktivis, pemuda, dan tokoh masyarakat? Mengapa seolah terjadi pembiaran? Banyak pihak menilai masyarakat kini berada di persimpangan jalan: memilih diam demi menyelamatkan posisi aman keluarga, atau berani bersuara melawan dugaan pengorbanan anggaran Dana Desa demi ambisi oligarki yang merugikan peternak lokal.

"He tolodo marase mbanuada (Aduh, kasihan sekali masyarakat kita)," keluh salah seorang tokoh pemuda setempat yang prihatin melihat pembodohan ini berjalan mulus tanpa hambatan.
Solusi Nyata: Desa Punya Hak Menolak!
Secara regulasi, 105 Desa di Nias Barat sebenarnya memiliki hak penuh untuk menolak program pengadaan 'babi rawan mati' ini. 

Baca Juga: "Uang Rakyat Jadi Bangkai di Hilimayo, Pj Kades Salahkan Wabah Babi Tapi Takut Beberkan Nilai Anggaran ke Publik"

Anggaran Desa tidak boleh dipaksakan untuk membiayai program konyol yang justru mengancam hajat hidup para peternak lokal.
Jika Penjabat (PJ) Kepala Desa atau Badan Permusyawaratan Desa (BPD) bungkam dan gemetar karena takut dipecat oleh Bupati akibat adanya bagi-bagi hasil, maka kekuatan tertinggi ada di tangan masyarakat. Solusi konkretnya sangat sederhana : Masyarakat di setiap desa harus berani membentangkan spanduk penolakan secara mandiri. Tuliskan dengan tegas bahwa desa mereka MENOLAK keras masuknya babi dari luar demi melindungi sisa ternak babi lokal yang masih bertahan dari ancaman virus ASF.

Kini pertanyaannya kembali kepada kita semua: Siapa elemen masyarakat, pemuda, atau aktivis yang berani memulai membentangkan spanduk itu hari ini, atau kita rela melihat Nias Barat semakin terpuruk dalam pembodohan yang tiada habisnya?

Berita Terbaru