Kobarkan Semangat Juang 45 dan Bambu Runcing Digital, Pemuda Nias Desak Presiden Mekarkan Provinsi

avatar Redaksi

NIAS, 15 AGUSTUS 2026 – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia, momentum sejarah dipantik kembali dari tanah Ono Niha. Aliansi Pemuda dan Tokoh Masyarakat dari 4 Kabupaten dan 1 Kota di Kepulauan Nias secara resmi menggaungkan seruan nasional untuk menuntut pembebasan wilayah mereka dari belenggu ketertinggalan, kemiskinan, dan keterisolasian. Satu-satunya jalan keluar yang mutlak adalah mendesak Bapak Presiden Republik Indonesia untuk segera mengesahkan pemekaran Provinsi Kepulauan Nias. 

"Jika tahun 1945 para pahlawan bangsa mengorbankan darah, air mata, dan nyawa dengan bersenjatakan bambu runcing demi mengusir penjajah, maka hari ini kami mewarisi darah juang yang sama. Bedanya, hari ini pemuda Nias memegang 'Bambu Runcing Digital' melalui jemari dan ponsel kami di media sosial untuk memerdekakan Nias dari ketertinggalan ekonomi dan infrastruktur," tegas perwakilan tokoh pemuda setempat. 

Baca Juga: SMK N 2 MANDREHE UTARA GELAR PAWAI DAN PERKAJU, KAKAMABIGUS ELFIAN RESTUMEN LASE: BENTUK KARAKTER DAN KEDISIPLINAN SISWA

Gerakan moral ini lahir dari kesadaran bersama bahwa menaruh harapan penuh pada birokrasi pemerintahan daerah saat ini tidaklah cukup. Kompleksitas persoalan domestik di masing-masing kabupaten/kota membuat akselerasi pembangunan skala besar jalan di tempat. Oleh karena itu, tonggak perjuangan kini beralih ke pundak para tokoh, generasi muda, akademisi, dan aktivis untuk bergerak serentak secara vertikal langsung ke pemerintah pusat. 

Seruan ini bukanlah ajakan untuk menciptakan kerusuhan fisik ataupun demonstrasi anarkis di jalanan. Sebaliknya, ini adalah sebuah Manifesto Perjuangan Digital (Abad ke-21). Seluruh elemen masyarakat Kepulauan Nias diinstruksikan untuk menguasai ruang-ruang publik digital, mulai dari Facebook, Instagram, TikTok, hingga WhatsApp guna menyuarakan satu narasi tunggal secara masif dan terstruktur. 

Baca Juga: Rapor Merah Nias Barat : 12 Program Unggulan Bupati Eliyunus Waruwu Dinilai Gagal Total, Ke Mana Aliran APBD?

"Dulu musuh kita terlihat, yaitu penjajah colonial. Sekarang, musuh nyata kita adalah keterisolasian geografis dan ketimpangan pembangunan. Kita tidak boleh lagi diam menonton ketertinggalan ini. Semangat Proklamasi 45 mengajarkan kita bahwa kemerdekaan dan hak kemajuan itu harus direbut dan diperjuangkan, bukan ditunggu sebagai hadiah!" tambahnya. 

Melalui rilis pers ini, Pemuda dan Tokoh Masyarakat 4 Kabupaten 1 Kota Kepulauan Nias mengetuk hati Bapak Presiden dan jajaran Kabinet Pemerintahan Pusat agar mendengar jeritan dari beranda depan NKRI di Samudra Hindia ini. Pemekaran Provinsi Nias bukan lagi sekadar isu politik lokal, melainkan sebuah kebutuhan kemanusiaan dan kedaulatan bangsa demi kesejahteraan rakyat yang setara dengan daerah lain di Indonesia. 

Baca Juga: Jeritan Hati dari Batas Samudera Hindia: Masyarakat Kepulauan Nias Memohon Restu Provinsi Baru kepada Presiden Prabowo

MERDEKA! MERDEKA! MERDEKA!

SALAM PERSATUAN KEPULAUAN NIAS
"Bersatu Kita Kuat, Bercerai Kita Tertinggal"

Berita Terbaru