Rapor Merah Nias Barat : 12 Program Unggulan Bupati Eliyunus Waruwu Dinilai Gagal Total, Ke Mana Aliran APBD?

avatar Redaksi

NIAS BARAT,bnewsnasional.id - 12 Agustus 2026 – Kepemimpinan Bupati Eliyunus Waruwu di Kabupaten Nias Barat kini berada di titik nadir. Memasuki pertengahan tahun 2026, janji-janji politik dan visi misi strategis yang digemborkan saat kampanye dinilai gagal total di lapangan. 

Alih-alih membawa perubahan, masyarakat Nias Barat justru disuguhkan barisan proyek mangkrak dan realisasi anggaran yang berjalan di tempat.Kekecewaan mendalam ini disuarakan langsung oleh ETW, salah seorang pelaku usaha lokal di Nias Barat. 

Baca Juga: Akses Jalan Utama Ononamolo I Nyaris Putus, Keselamatan Anak Sekolah Terancam: Masyarakat Desak Pemkab Nias Barat.

Ia menegaskan bahwa roda pemerintahan saat ini hanya berjalan di atas kertas tanpa memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan warga."Masyarakat Nias Barat hari ini seperti membeli kucing dalam karung. 

Kami hanya disuapi janji manis setiap hari, sementara di lapangan, program-program strategis bupati rontok satu per satu. Ini bukan sekadar kegagalan administratif, ini adalah pengkhianatan terhadap kepercayaan rakyat," ujar ETW dengan nada kecewa.Berikut adalah 12 dosa program rezim Bupati Eliyunus Waruwu yang dinilai gagal total oleh masyarakat 

1. Pengadaan Bibit Babi Dana Desa Ketapang TA 2025 (via Perumda Tanomo): Gagal total. 
Sejumlah desa melaporkan bantuan ternak babi justru mati sebelum memberikan hasil,Dana beberapa kandang Babi di setiap desa sampai saat ini banyak yang tidak terisi sehingga dana Desa Puluhan miliar mengendap di Bank sumut.

2. Pembukaan Lahan Sawah Antar-Kecamatan: Masih berupa "proyek di awan-awan" tanpa realisasi fisik di lapangan.

3. Perkebunan Jagung Ketahanan Pangan 2025: Pengeluaran anggaran di berbagai desa terbukti jauh lebih besar pasak dari pada tiang dibanding hasil panen.

4. Pengadaan Bibit Unggul : Hingga Agustus 2026, bibit yang dijanjikan belum kunjung didistribusikan kepada petani.

5. Jalan Alternatif Sisobawino - Hilibadalu - Hilisangawola: Pembangunan infrastruktur krusial ini mandek dan tidak selesai.

6. Keterlambatan Pencairan Dana Desa : Sudah memasuki bulan Agustus, namun pencairan baru menyentuh Tahap 1, melumpuhkan sirkulasi ekonomi desa.

6. Mangkraknya 3 Proyek IPA Air Bersih TA 2025: Proyek Instalasi Pengolahan Air (IPA) di Desa Hiliuso Moi, Desa Lahagu, dan Desa Bawozamaiwo tidak dapat difungsikan. Air bersih masih menjadi mimpi bagi warga.

Baca Juga: Duga DPRD Pakai Topeng, Hak Konsitusional Hilang ke bali Minggu Depan”Ditantang Buktikan Fungsi Pengawasannya Atas RSUD

7. Penelantaran Aset RSU Pratama Lologolu : Gedung dan fasilitas medis milik Pemda dibiarkan menganggur dan tidak dioperasikan.

8. Dugaan Mark-Up RSU Cerah Medika TA 2025: Proyek dengan anggaran fantastis ini belum selesai dan memicu kecurigaan publik terkait indikasi korupsi.

9. Kompleks Wisata Kamadu Beach Menjadi Pajangan : Restoran serta fasilitas kolam renang milik Pemda telantar tanpa pengelolaan.

10. Injeksi Dana Mubazir Perumda Tanomo: Sudah dua tahun disuntik dana APBD, BUMD ini gagal menyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan gagal membuka lapangan kerja.

11. Penerbitkan SPK PPPK Angkatan Ke II Belum kunjung di keluarkan dan PPPK-PW sudah 8 bulan belum kunjung dapat Gajian.

Baca Juga: OTORITER Vs JERITAN HATI 1.500+ PPPK-PW NIAS BARAT: 8 BULAN BEKERJA TANPA GAJI, DAPUR RAKYAT TAK LAGI MENGEBUL

12. Hampi 2 Tahun berjalan pemerintah Jabatan strategis Sekda Baru Jabatan Pj belum mampu Bupati Menepatkan Orang2 yang Defenitif,dan Juga di beberapa kepala Opd masih banyak PLT gimana bisa jalan program kalau seperti itu.

Di saat miliaran rupiah aset daerah dibiarkan membusuk menjadi pajangan, dan warga Hiliuso Moi, Lahagu, serta Bawozamaiwo harus menjerit demi setetes air bersih.

Sebuah pertanyaan besar wajib kita gantungkan di depan kantor bupati : Untuk siapa sebenarnya APBD Nias Barat ini bekerja? Untuk kemakmuran rakyat, atau hanya untuk memperkaya segelintir elite di atas panggung janji?

"Kegagalan sistemik di 12 sektor ini bukan lagi sekadar masalah teknis keterlambatan proyek. Ini adalah krisis multidimensi yang berdampak langsung pada dapur ribuan keluarga di Nias Barat.

Publik kini menuntut transparansi penuh dan pertanggungjawaban nyata dari Bupati Eliyunus Waruwu sebelum sisa waktu jabatannya habis tak berbekas.

Berita Terbaru