Seleksi 10 Besar Cong Bhing Ana’ Bangkalan 2026 Dipertanyakan, Transparansi Penilaian Jadi Tuntutan

Reporter : Hanif

Bangkalan, bnewsnasional.id – Hasil seleksi Grand Final Cong Kene’ Bhing Ana’ Kabupaten Bangkalan 2026 di Gedung Ratoh Ebuh menuai sorotan. Sejumlah pihak mempertanyakan konsistensi penilaian juri, terutama dalam mengukur kemampuan berbahasa Madura, wawasan kebudayaan, serta penguasaan materi pariwisata peserta.

Sorotan muncul setelah peserta yang dinilai memiliki wawasan kebudayaan luas dan mampu menyampaikan gagasan secara jelas dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Madura justru tidak masuk 10 besar. Sementara itu, terdapat peserta yang artikulasi bahasa Maduranya dinilai kurang lancar, tetapi berhasil melaju ke tahap tersebut.

Baca juga: Napak Tilas Sejarah Bangkalan, Bupati Ziarah ke Makam Leluhur di Arosbaya

Kondisi ini memunculkan pertanyaan mengenai indikator dan bobot penilaian yang digunakan dalam menentukan peserta terbaik.

Ajang Cong Kene’ Bhing Ana’ bukan sekadar kompetisi penampilan atau kemampuan menghafal materi. Sebagai representasi generasi muda Bangkalan, para peserta diharapkan memiliki pemahaman budaya lokal, keterampilan komunikasi, wawasan pariwisata, serta kemampuan memperkenalkan identitas daerah secara meyakinkan.

Kemampuan berbahasa Madura juga dinilai penting karena bahasa daerah merupakan salah satu unsur identitas dan warisan budaya yang perlu dijaga keberlangsungannya.

Karena itu, publik membutuhkan penjelasan mengenai sejauh mana kemampuan berbahasa Madura, penguasaan materi kepariwisataan, wawasan budaya, dan keterampilan komunikasi menjadi pertimbangan dalam penentuan 10 besar.

Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kabupaten Bangkalan diharapkan memberikan penjelasan secara terbuka mengenai mekanisme seleksi, indikator penilaian, serta rekapitulasi nilai peserta sesuai ketentuan yang berlaku.

Baca juga: Ketua PKN Imam Syafii Minta Oknum Wartawan Klarifikasi Dugaan Persoalan Helm di Tragah

Transparansi tersebut penting untuk memastikan bahwa keputusan juri dapat dipahami dan dipertanggungjawabkan secara profesional.

Jika penilaian telah dilakukan berdasarkan indikator yang jelas dan diterapkan secara konsisten, keterbukaan informasi dapat membantu menjawab keraguan yang berkembang di tengah masyarakat.

Sebaliknya, tanpa penjelasan yang memadai, perbedaan antara ekspektasi publik dan hasil seleksi berpotensi memunculkan persepsi negatif terhadap proses penjurian.

Evaluasi bukan berarti meniadakan hasil kompetisi, melainkan menjadi bagian dari upaya menjaga kredibilitas ajang pemilihan duta budaya dan pariwisata daerah.

Baca juga: Ditekan dan Diiming-imingi Uang, Kades Buduran Bangkalan Tolak Tanda Tangani Dokumen Batas Tanah Bersengketa

Masyarakat berharap Cong Kene’ Bhing Ana’ Bangkalan benar-benar menjadi ruang bagi generasi muda yang tidak hanya percaya diri di atas panggung, tetapi juga memahami kebudayaan Madura, menguasai potensi pariwisata daerah, dan mampu menyampaikan identitas Bangkalan secara baik.

Hingga terdapat penjelasan resmi dari pihak penyelenggara, pertanyaan mengenai dasar penilaian dan alasan penentuan 10 besar masih memerlukan klarifikasi.

Keterbukaan menjadi kunci agar ajang yang membawa nama budaya Bangkalan ini tetap dipercaya publik dan menghasilkan duta yang sesuai dengan tujuan penyelenggaraannya.(Team/Red)

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru