Bangkalan,bnewsnasional.id – Gelombang keresahan melanda kalangan pendidik di Kabupaten Bangkalan terkait pengelolaan dana iuran rutin Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI). Sejumlah guru mempertanyakan transparansi dan asas manfaat dari dana yang dipotong setiap bulan tersebut, lantaran dinilai minim kontribusi nyata bagi anggota di lapangan.
Seorang guru di Kabupaten Bangkalan yang meminta identitasnya dirahasiakan mengungkapkan bahwa penarikan iuran selama ini bersifat wajib dan terus berjalan. Namun, ia menyayangkan tidak adanya laporan terbuka mengenai peruntukan dana yang dikumpulkan dari ribuan anggota tersebut.
"Kalau memang ada iuran, seharusnya jelas digunakan untuk apa. Jangan hanya dipakai untuk kegiatan seremonial atau perjalanan luar kota pengurus, sementara anggota di bawah tidak pernah merasakan manfaatnya," cetus sumber tersebut kepada wartawan.
Kondisi ini diduga menjadi fenomena gunung es. Sumber tersebut membeberkan bahwa mayoritas rekan sesama profesi merasakan keresahan yang sama. Kendati demikian, mereka memilih untuk tidak bersuara karena dibayangi rasa khawatir akan dampak negatif di lingkungan kerja mereka.
"Kami jangan hanya dijadikan penyumbang iuran. Guru ingin organisasi hadir memperjuangkan kesejahteraan, memberikan pendampingan, dan benar-benar memberikan manfaat bagi anggotanya," lanjutnya menegaskan harapan para guru.
Baca Juga: Aplikasi SIKS-NG Error, Input Data Sosial di Arosbaya Mandek di Bawah 1 Persen!
Desak Laporan Keuangan TerbukaPara guru mendesak pengurus PGRI Kabupaten Bangkalan untuk lebih terbuka dan berkala dalam menyampaikan laporan penggunaan anggaran. Aspek transparansi dinilai menjadi kunci utama agar kepercayaan para guru terhadap organisasi profesi ini tidak terkikis.(Team/Red)
Editor : Redaksi