Bangkalan,BnewsNasional.id -Gelombang kekecewaan terhadap Bank BRI Cabang Arosbaya kian memuncak. Setelah sebelumnya mendapat sentilan dari Tokoh Masyarakat, kini giliran jajaran Ketua Asosiasi Kepala Desa (AKD/PKDI) bersama sejumlah Kepala Desa (Kades) di Kecamatan Arosbaya yang melontarkan kritik hantaman keras. Mereka menilai BUMN perbankan tersebut minim empati, buta sosial, dan hanya berorientasi pada bisnis semata.
Ketua PKDI Arosbaya, Agus Mulyanto, bahkan tak segan mengeluarkan pernyataan menohok. Ia mendesak BRI Cabang Arosbaya untuk angkat kaki dari wilayah tersebut jika terus-menerus menutup mata dari kegiatan sosial dan momentum kebersamaan warga.
“Kalau tidak ikut berpartisipasi dalam kegiatan masyarakat, mending pindah saja BRI Arosbaya,” tegas Agus Mulyanto dengan nada geram.
Kemarahan tokoh masyarakat ini dipicu oleh absennya perwakilan BRI Arosbaya dalam Upacara Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI di tingkat kecamatan. Padahal, pihak panitia telah melayangkan undangan resmi jauh-jauh hari. Bagi warga, ketidakhadiran ini bukan lagi soal materi, melainkan bentuk krisis nasionalisme dan pelecehan terhadap nilai kebersamaan.
“Upacara 17 Agustus saja tidak hadir, padahal sudah dikasih undangan. Ini yang membuat kami mempertanyakan, sebenarnya seperti apa kepedulian BRI terhadap masyarakat Arosbaya?” cetus Agus mempertanyakan
Ia mengingatkan manajemen BRI agar tidak menempatkan posisi masyarakat hanya sebagai komoditas bisnis yang dicari saat menguntungkan, namun ditinggalkan saat warga menggelar hajat besar bersama.
Baca juga: BRI Arosbaya Disorot, Aba Rendi: Jangan Cuma Ambil Keuntungan, Saat Warga Butuh Dukungan Malah Diam
“Jangan sampai masyarakat hanya dianggap penting ketika menjadi nasabah. Ketika ada kegiatan bersama, justru tidak terlihat,” tambahnya.
Senada dengan Agus, sejumlah kepala desa di Kecamatan Arosbaya ikut mengencangkan suara. Menurut para kades, roda ekonomi BRI berputar kencang di Arosbaya berkat simpanan, pinjaman, dan transaksi para pelaku UMKM serta warga lokal. Sangat ironis jika bank sebesar BRI enggan menyisihkan perhatiannya untuk mendukung kegiatan masyarakat.
“Ini bukan soal besar kecilnya bantuan, tapi soal kepedulian dan kebersamaan. Jangan hanya datang mengambil keuntungan dari masyarakat, tetapi saat masyarakat mengadakan kegiatan bersama justru tidak terlihat kepeduliannya,” ujar salah satu kades setempat.
Kritik dari PKDI dan para kades ini memperpanjang daftar hitam raport sosial BRI Arosbaya. Sebelumnya, Pembina Gramuda Arosbaya, Aba Rendi, sudah lebih dulu menyuarakan kekecewaan serupa terkait nihilnya kontribusi program Tanggung Jawab Sosial Lingkungan (TJSL/CSR) bank tersebut dalam setahun terakhir.
Kini, bola panas berada di tangan manajemen Bank BRI Cabang Arosbaya. Publik dan seluruh elemen masyarakat Arosbaya menuntut klarifikasi serta jawaban jujur atas sikap apatis yang dipertontonkan pihak bank selama ini. Jika tidak ada perubahan sikap, desakan agar warga memboikot atau meminta bank tersebut angkat kaki diprediksi akan terus menguat.(Team/Red)
Editor : Redaksi