Penggusuran Sei Tapanuli, Warga Minta Negara Hadir

Bayi Beberapa Bulan Terlantar Usai Penggusuran Sei Tapanuli, Warga Minta Negara Hadir

avatar Redaksi

Bayi Beberapa Bulan Terlantar Usai Penggusuran Sei Tapanuli, Warga Minta Negara Hadir

TAPANULI, bnewsnasional.id — Penggusuran pemukiman pekerja PT Cahaya Amal Gemilang di Desa Sei Tapanuli meninggalkan puluhan keluarga tanpa tempat tinggal. Di antara warga terdampak, ada seorang ibu yang terpaksa menggendong bayinya yang baru berusia beberapa bulan di bawah langit terbuka, tanpa atap layak dan tanpa kepastian.

Pemukiman itu selama bertahun-tahun menjadi tempat tinggal sementara bagi para pekerja bersama keluarga. Penggusuran dilakukan tiba-tiba, tanpa waktu persiapan memadai maupun solusi tempat tinggal pengganti.

“Barang-barang banyak yang rusak atau tertinggal. Sekarang saya hanya menggendong bayi saya di pinggir jalan. Kalau hujan, kami bingung mau berteduh ke mana,” ujar salah satu ibu korban.

Kondisi ini membuat puluhan kepala keluarga, termasuk anak-anak dan lansia, bertahan di tempat terbuka. Kebutuhan pokok, pakaian, dan perlengkapan bayi banyak yang tidak sempat diselamatkan. Cuaca yang berubah menambah kekhawatiran terhadap kesehatan bayi dan lansia.

Warga menilai tindakan penggusuran tanpa solusi melanggar amanat UUD 1945 Pasal 33 ayat 1-3 yang menegaskan bumi, air, dan kekayaan alam dikuasai negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat. Pasal ini menjadi dasar negara wajib hadir menjamin kesejahteraan, termasuk hak atas tempat tinggal layak bagi setiap warga negara.

Hingga berita ini ditulis belum ada kejelasan dari manajemen PT Cahaya Amal Gemilang maupun pemerintah desa. Para korban berharap pemerintah pusat, daerah, dan pihak terkait segera turun tangan memberi tempat tinggal sementara serta penyelesaian musyawarah agar hak dasar mereka sebagai pekerja dan warga terpenuhi.

Pihak berwenang belum memberikan pernyataan resmi terkait alasan penggusuran dan langkah penanganan.
*Sumber informasi:* Dikutip dari laman Facebook salah satu warga yang digusur  (Yanto)

Berita Terbaru

Pendidikan,

Rektor atau Maling Kelas Kakap?

Oleh: MTAB   Sumenep, bnewsnasional.id -OPINI, Gelar profesor biasanya identik dengan kecerdasan, kebijaksanaan, dan integritas. Profesor adalah puncak