Sekolah Dasar Tanpa Bimbingan Dan Konseling: Siapkah Menghadapi Tantangan Karakter Anak?

Reporter : Redaksi

Penulis: Setiani Zai

Medan,bnewsNasional.id-Sekolah dasar merupakan tempat pertama bagi anak untuk belajar mengenal kehidupan diluar lingkungan keluarga. 

Di sekolah, anak tidak hanya diajarkan membaca, menulis, dan berhitung, tetapi juga belajar menghargai orang lain, bekerja sama, mengendalikan emosi, serta menyelesaikan

berbagai persoalan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pembentukan karakter menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari proses pendidikan.

Namun, muncul sebuah pertanyaan yang patut direnungkan: Siapkah sekolah dasar menghadapi berbagai tantangan karakter anak tanpa adanya, guru bimbingan dan konseling (BK).?

Berbeda dengan jenjang SMP dan SMA yang umumnya memiliki guru BK, sebagian besar sekolah dasar di Indonesia belum memiliki tenaga BK secara khusus. 

Peran tersebut masih diemban oleh guru kelas yang setiap hari mendampingi peserta didik. Di satu sisi, guru kelas mengenal karakter siswanya dengan baik.

Namun, di sisi lain mereka juga memikul tanggung jawab besar, mulai dari merencanakan pembelajaran, mengajar, melakukan penilaian, hingga menyelesaikan berbagai administrasi sekolah. Akibatnya, pendampingan terhadap permasalahan pribadi, sosial, maupun emosional peserta didik sering kali belum dapat dilakukan secara optimal.

Menurut Pandangan saya di SD Negeri 068004 Medan Tuntungan, guru-guru telah berupaya menjalankan peran tersebut dengan penuh tanggungjawab. Ketika terjadi perselisihan antarpeserta didik, muncul peserta, didik yang kurang percaya diri, atau terdapat kesulitan belajar, guru kelas berusaha memberikan arahan dan pembinaan. Upaya ini menunjukkan besarnya kepedulian guru terhadap perkembangan peserta didik. Akan tetapi, kondisi tersebut juga memperlihatkan bahwa guru kelas harus menjalankan dua peran sekaligus, yaitu sebagai pendidik dan sebagai pembimbing. Tidak semua persoalan peserta didik dapat ditangani

Secara mendalam apabila guru harus membagi perhatian dengan berbagai tugas lainnya.

Diera digital, tantangan pembentukan karakter anak semakin kompleks. Pengaruh media sosial, penggunaan gawai sejak usia dini, perundungan, rendahnya kepedulian terhadap teman, hingga lemahnya pengendalian emosi menjadi persoalan yang semakin sering ditemui. Permasalahan seperti ini tidak cukup diselesaikan hanya melalui pemberian nasihat ketika terjadi pelanggaran. 

Anak membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan agar mampu mengenali diri, mengelola emosi, membangun hubungan sosial yang sehat, dan mengambil keputusan yang bertanggung jawab.

Menurut Pandangan saya, layanan bimbingan dan konseling di sekolah dasar tidak boleh dipahami hanya sebagai tempat menangani peserta didik yang bermasalah. 

Layanan BK seharusnya menjadi bagian dari upaya pencegahan, pengembangan potensi, dan pembentukan karakter seluruh peserta didik. 

Oleh karena itu, meskipun belum terdapat guru BK khusus, sekolah tetap perlu menyusun program bimbingan yang terarah melalui kerja sama antara guru kelas, kepala sekolah, orang tua, dan pihak terkait.

Penguatan kompetensi guru kelas dalam bidang bimbingan dan konseling juga menjadi langkah penting. 

Pelatihan mengenai teknik konseling dasar,komunikasi dengan anak, penanganan konflik sederhana, serta deteksi dini terhadap permasalahan peserta didik dapat membantu guru memberikan pendampingan yang lebih efektif. 

Selain itu, sekolah perlu membangun komunikasi yang erat dengan orang tua karena pembentukan karakter tidak hanya menjadi tanggungjawab sekolah, tetapi juga keluarga.

Pada akhimya, tantangan karakter anak pada masa kini tidak akan semakin ringan. 

Justru sebaliknya, tantangan tersebut akan terus berkembang seiring perubahan zaman. Oleh karena itu, meskipun sekolah dasar belum memiliki guru BK secara khusus, layanan bimbingan dan konseling tetap harus menjadi perhatian utama dalam penyelenggaraan pendidikan. 

Di SD Negeri 068004 Medan Tuntungan menunjukkan bahwa guru telah berusaha menjalankan peran pembimbing dengan baik. Namun, agar pembentukan karakter peserta didik berlangsung lebih optimal, diperlukan penguatan. program bimbingan dan konseling yang terencana, berkelanjutan, serta mendapat dukungan dari seluruh warga sekolah.

Maka, pertanyaan "Sekolah Dasar Tanpa Bimbingan dan Konseling Siapkah Menghadapi Tantangan Karakter Anak?" bukan sekadar sebuah judul, melainkan sebuah refleksi bagi dunia pendidikan. 

Anak-anak membutuhkan lebih dari sekadar pengajaran di dalam kelas.

Mereka membutuhkan pendampingan, perhatian, dan bimbingan agar tumbuh menjadi generasi yang cerdas, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan kehidupan di masa depan.

 

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru