Tudingan di RSUD Thomsen Nias

Dius warga Nias Utara,menuding lemahnya pelayanan di RSUD Thomsen setelah Bayi yang di lahirkan istrinya meninggal.

Reporter : YUNIANTO

Nias ,bnewsnasional.id– Dugaan lemahnya pelayanan kesehatan kembali menjadi sorotan publik. Seorang warga Desa Alasa, Kabupaten Nias Utara, Sumatera Utara, bernama Dius, menyampaikan keluhan serius terhadap pelayanan Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Thomsen, menyusul meninggalnya bayi yang dilahirkan istrinya pada awal Januari 2026 lalu.

Kepada wartawan, Dius mengungkapkan bahwa peristiwa tragis tersebut terjadi pada Kamis dini hari, 8 Januari 2026, sekitar pukul 03.00 WIB. Saat itu, istrinya yang tengah hamil dengan kondisi kurang bulan dilarikan ke RSUD Thomsen untuk mendapatkan penanganan medis darurat.

Baca juga: Gangguan Listrik PLN di wilayah 3 Nias Barat , Masyarakat Menuai sorotan tajam Desak Evaluasi Manajemen dan Tingkatkan

Menurut penuturannya, sejak awal kedatangan, alur penanganan pasien dinilai tidak jelas dan terkesan berbelit. Istrinya sempat diarahkan ke ruang bersalin, kemudian dipindahkan ke Instalasi Gawat Darurat (IGD), sebelum akhirnya kembali dipindahkan lagi ke ruang bersalin menggunakan ambulans, meski masih berada dalam satu kompleks rumah sakit.

“Perpindahan itu terjadi beberapa kali dan terekam CCTV. Kejadiannya sekitar jam tiga pagi. Kami sebagai keluarga bingung, kenapa harus bolak-balik padahal masih satu area rumah sakit,” ujar Dius.

Ia menilai kondisi tersebut menunjukkan kurang sigapnya sistem penanganan pasien darurat, terlebih terhadap ibu hamil dengan risiko tinggi. Selain alur yang dinilai tidak efektif, Dius juga menyoroti respons tenaga medis yang menurutnya kurang cepat dan tanggap.

“Yang kami rasakan, penanganannya seperti menunggu kondisi pasien benar-benar parah dulu. Padahal ini situasi darurat. Rumah sakit seharusnya bergerak cepat, bukan reaktif,” katanya.

Baca juga: Pemekaran Provinsi Kepulauan Nias: Sebuah Cita-Cita Luhur yang Belum Terwujud

Tragedi pun tak terhindarkan. Setelah proses operasi persalinan dilakukan pada pagi harinya, bayi yang dilahirkan istrinya dinyatakan meninggal dunia. Peristiwa tersebut meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, sekaligus memunculkan tanda tanya besar terkait kualitas pelayanan yang diterima.

Dius mengakui bahwa pihak rumah sakit menyampaikan bahwa prosedur medis telah dijalankan sesuai standar. Namun sebagai keluarga pasien, ia mengaku tidak memiliki cukup akses untuk memastikan langsung proses penanganan di ruang perawatan, mengingat adanya pembatasan kunjungan dan minimnya keterlibatan keluarga.

“Kami hanya menerima penjelasan secara lisan. Tidak bisa melihat langsung bagaimana penanganan dilakukan. Jadi kami tidak bisa menilai, apakah sudah maksimal atau ada yang terlewat,” jelasnya.

Baca juga: Bendum LSM Gmicak Jalan Berlobang di Dahadano Botombawo  Sigap UPT Bina Marga Prov Sumut"

Terkait penyebab meninggalnya bayi, Dius menyebut pihak rumah sakit telah memberikan penjelasan medis. Meski demikian, penjelasan tersebut belum sepenuhnya menghilangkan rasa kecewa, khususnya terhadap respons awal dan kecepatan penanganan pasien sejak pertama tiba di rumah sakit.
Sebagai warga dan pengguna layanan BPJS Kesehatan, Dius berharap peristiwa ini menjadi evaluasi serius bagi manajemen RSUD Thomsen dan pemerintah daerah.

“Harapan kami hanya satu: pelayanan harus ditingkatkan. Mau pasien umum atau BPJS, kalau sudah darurat, jangan ditunda. Jangan menunggu kritis dulu baru ditangani. Semua keluarga pasti tidak ingin kejadian seperti ini menimpa siapa pun,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, manajemen RSUD Thomsen belum memberikan keterangan resmi terkait keluhan tersebut,masih berupaya menghubungi pihak rumah sakit serta Dinas Kesehatan Kabupaten Nias untuk memperoleh klarifikasi dan penjelasan resmi, guna memastikan pemberitaan yang berimbang dan transparan.

Editor : Redaksi

Peristiwa
Berita Terpopuler
Berita Terbaru